Ketika Rivalitas Memudar

PHOTO_18469909_173471_38465263_ap

Judul artikel ini bukanlah bermaksud mengecilkan Liverpool yang notabene adalah club kesayangan penulis, namun judul tersebut adalah sebuah kenyataan yang bisa kita lihat dengan mata kepala kita sendiri.
Kenyataan yang menyakitkan lebih baik daripada kebohongan yang mendamaikan. Liverpool menunjukkan kemajuan yang sangat menjanjikan. Pola permainan terlihat baik, pergerakan pemain juga sangat cepat dan terlihat berbahaya. Namun harus diakui Liverpool sekarang berada di kelas berbeda dengan rival terberatnya; Manchester United.

Jika dianalogikan saat ini Liverpool berada di kelas 7 dan Manchester United berada di kelas 9. Tentunya dengan perbedaan ini masing-masing mempunyai goal yang berbeda. Skill yang dibutuhkan atau digunakan juga berbeda. Jangan pernah membandingkan pencapaian Liverpool dan Manchester United, paling tidak 2-3 tahun ke depan.

Sebagai kelas 7, Liverpool merupakan top of the class. Mungkin dengan menambah seorang playmaker, Liverpool bisa mengimbangi beberapa club lain yang sudah mantap dengan pola permainan mereka.

Melawan Manchester United tadi malam bukanlah hasil yang buruk. 2-1 adalah cerminan seorang fresman  melawan seniornya. Dan itu adalah hasil yang sangat bagus. Bila kita ingat penampilan Allen yang begitu tertekan sehingga beberapa kali salah passing. Sterling yang tidak mampu mengeluarkan skillnya entah karena barisan defense Manchester berhasil mengunci Sterling atau hanya umurnya yang belum mampu memikul tekanan yang begitu besar.

Positioning Borini sangat baik namun belum ada kecocokan dengan Suarez yang terbiasa dengan posisi striker tunggal. Tapi determinasi itu begitu terlihat. Sturidge memberikan hawa segar pada serangan Liverpool. Benang merah dengan Suarez pun sudah mulai terjalin. Reina melakukan penyelamatan gemilang dari tendangan kagawa. Agger berkali-kali memotong bola berbahaya.

Babak pertama bukanlah gambaran permainan sesungghnya dari Liverpool walaupun diisi oleh pemain-pemain yang  bisa dikatakan stabil dalam emosi dan kemampuan. Tekanan yang dialami para pemain Liverpool begitu besar, mereka harus menghadapi “anak kelas 9” dengan harapan tinggi para pendukungnya untuk menang, meraih poin, dan menempati empat besar.

Liverpool adalah sebuah klub dengan sejarah yang spektakuler, namun saat ini harus diakui kenyataan bahwa we are in different class. Brendan Rodgers dan para pemain masih begitu banyak harus dipelajari dan para pendukungnya harus banyak bersabar karena sejarah pasti berulang. Seperti lirik lagu Delon “Semua akan indah pada waktunya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s